Utama  

2 Proyek Jumbo Air Baku di Tator Jadi Perhatian Publik, Satu Diantaranya Dilaporkan FORMAT

Wirahadi

Tana Toraja– Sejak tahun 2020, 2 (dua) proyek jumbo di Tana Toraja (Tator) jadi perhatian publik, yakni proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan Air Baku Malillin, Mengkendek, dengan nilai kontrak Rp 40.910.921.000,- . Penyedia jasa adalah  PT. Indoteknik Pembangunan. Kemudian, proyek Air Baku Parodo di Lembang Kandua’ Kecamatan Bittuang. Proyek ini berkontrak pada tahun 2022 dengan menghabiskan anggaran APBN kurang lebih Rp 40.000.000.000,- (empat puluh milliar rupiah).

Ironisnya, kedua proyek ini kerap dikeluhkan publiK karena asas manfaat proyek tersebut dinilai tidak maksimal alias dikerjakan secara asal-asalan. Kedua proyek ini pun di bawah pengawasan BBWS Pompengan Jeneberang.

Dari kedua proyek tersebut, satu diantaranya yakni proyek Air Baku Parodo telah dilaporkan Forum Mahasiswa Toraja (FORMAT) di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Selatan, bertepatan pada hari Anti Korupsi Sedunia pada 9 Desember 2024.

Ketua Umum FORMAT, Wirahadi mengatakan anggaran proyek Air Baku Parodo terindikasi dikorupsi.

“Karena penggunaan anggaran sebelumnya tidak maksimal atau atau terjadi pemutusan kontrak kemudian kembali dianggarkan pada tahun 2023. Dengan dasar ini, terindikasi proyek tersebut dikorupsi,’’ kata Wirahadi melalui rilis resmi Format, (9/12).

Selain itu, Wirahadi menilai, proyek Air Baku Parodo asas manfaatnya untuk masyarakat dipertanyakan.

“Berdasarkan hasil investigasi kami di lapangan, sampai saat ini, masyarakat belum merasakan manfaat dari proyek itu (Air Baku Parodo),’’ ungkap Wirahadi.

Oleh karena itu, lanjut Wirahadi, pihaknya mendesak APH dalam hal ini, Kejati Sulsel turun langsung lapangan melihat persoalan ini dan, mendesak Kejati untuk segera menindak dan mengusut dugaan korupsi dalam pekerjaan proyek tersebut.

“Untuk itu, kami mewakili masyarakat Toraja melaporkan proyek ini ke Kejati Sulsel secara resmi. Kami mendesak Kejati untuk segera menindaklanjuti dan dan mengusut dugaan korupsi dalam proyek ini,’’ tegas Wirahadi.

Berdasarkan catatan Airterkini.com, kedua proyek ini, dalam pertengahan pekerjaan terjadi pemutusan kontrak. Seakan pemutusan kontrak pekerjaan ini dijadikan sebagai modus untuk menghindari pengungkapan korupsi dari APH.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Airterkini.com, dalam pekerjaan proyek Air Baku di Parodo, ada salah satu nama mencuat sebagai orang yang bertanggung jawab dalam pekerjaan tersebut, yaitu inisial RM.

Konon, RM ini adalah istri dari oknum Kejaksaan Negeri Makale.

Upaya konfirmasi dilakukan kepada RM, baik melalui sambungan telepon maupun whatsapp hingga berita ini dinaikkan, namun belum direspon. (tim/gis)