Tana Toraja- Pemerintah daerah Kabupaten Tana Toraja telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp 27 milliar untuk penanggulangan stunting di tahun 2023. Anggaran ini cukup fantastis jika dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Sulawesi Selatan.

Ironisnya, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia, stunting di Tana Toraja pada tahun 2022 prevalensinya 35,4%, dan naik pada tahun 2023 diangka 36,9 %. Artinya, Kabupaten Tana Toraja tertinggi stunting di Sulawesi Selatan (grafik).
Merespon hal tersebut, Randan Pantong Sampetoding (RPS), salah satu anggota DPRD Kabupaten Tana Toraja dari fraksi Golkar angkat bicara. Menurutnya, ia menduga ada kejanggalan dalam pengelolaan anggaran stunting di tahun 2023.
“Kalau tidak salah, tahun 2023 anggaran penanggulangan stunting Rp 27 milliar. Namun kenapa, berdasarkan survei Kesehatan Indonesia, kita (Tana Toraja) tertinggi stunting di Sulsel,” kata RPS di Sekretariat Golkar Kabupaten Tana Toraja, (2/5/2024).
“Saya yakin ada kejanggalan dalam pengelolaan anggaran stunting tahun 2023,” ucap RPS.
Dengan demikian, lanjut RPS, dirinya meminta Inspektorat mengaudit pengelolaan anggaran stunting tahun 2023.
“Saya minta kepada Inspektorat, pengelolaan anggaran stunting diaudit,” tegas RPS.
Saat dikonfirmasi melalui telepon seluler dan WhatsApp, PPK Penanggulangan Stunting Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Toraja, Aldin belum merespon hingga berita ini dinaikkan.
Seiring seruan Presiden RI Jokowi, Indonesia masih harus bekerja keras untuk menekan tingkat persentase stunting atau anak gagal tumbuh.
“Yang namanya stunting harus betul-betul kita kerja keras untuk menurunkan persentasenya,” ujar Jokowi dikutip dari Kompas.com (7/7/2022). (*/gis)












